Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

Anggur

Aku Nur orang timur Masih bau kencur Kadang suka tekebur Aku Nur Sedang babak belur Entah kurang mujur Atau kurang tasyakur Beri aku anggur Bukan bajigur Cukup sesembur Hingga melebur Hingga ku jidur Tapi Jangan sampai terbujur Terjulur dikasur Karena aku bukan pelacur Atau wanita penghibur Hanya seorang Nur Yang sedang hancur Beriku anggur Senyur Biarkanku bertutur Bukan mendengkur Ngawur Beri aku anggur Biar ku berani jujur Karena saat berbaur Alkohol dan hati selalu akur Jadi pelipur Lalu menggusur Jujur Yang terkubur

Dejavu

Waktu berlalu Kini kembali sabtu Layaknya benalu Rinduku untukmu Tak sudi berlalu Bak tamu tak tahu malu. Dan seperti dungu Malah ku jamu Terus begitu begitu Seperti dejavu Aku kelu Kadang rindu Bisa sepahit empedu Saat yang dirindu menggebu Nyatanya bukan punyaku Tapi rindu Ia tak mau tahu Semakin ditinju Semakin mengacau Hingga ku lesu Lalu ia menyerbu Dalam bujuk rayu Rindu berlagu Terlalu Merdu “jangan jadi penipu” Aku tersipu Entah ragu Atau malu malu Dan dengan lugu Aku setuju merindu Waktu berlalu Kini kembali sabtu Dejavu. Welresna. R

Jangan anggap remeh "The Power of Plastic"

“Kita adalah generasi pertama yang merasakan efek dari perubahan iklim, dan generasi terakhir yang bisa berbuat sesuatu terhadap hal itu” (Barrack Obama, 2015) Beberapa tahun belakangan, dunia sedang gencar-gencarnya menyuarakan tentang berbagai gerakan peduli lingkungan. Salah satu yang cukup populer adalah gerakan mengurangi penggunaan plastik. Berbagai slogan seperti ; Diet Plastic, atau Save Our Earth, ramai dikumandangkan. Dimana-mana mulai muncul organisasi-organisasi maupun aktifis-aktifis peduli lingkungan.  Hal ini cukup memicu ketertarikan saya mengamati lebih jauh perbandingannya dengan perilaku penggunaan plastik dibeberapa tempat yang saya temui. Bukan hal baru dan luar biasa jika suatu sore saat berjalan-jalan keliling kompleks dan kita menemukan sampah plastik bertebaran tidak jauh dari tempat sampah. Miris memang. Ketika bertemu kondisi seperti ini, hal pertama yang terlintas di kepala adalah betapa rendahnya kesadaran “membuang sampah pada tempatnya”. Si pen...

"Air Rasa Pusing"

Alkohol sejak dahulu sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Khusus di daerah Indonesia bagian Timur, tempat saya lahir dan bertumbuh besar, setiap daerah bahkan memiliki karakteristik tersendiri untuk alkohol yang difermentasi secara tradisional. Alkohol juga mempunyai sebutan yang berbeda untuk tiap daerah seperti moke, sopi, laru, tuak, arak dan lain sebagainya. Minuman ini selanjutnya mendapat tempat dihati masyarakat sebagai minuman kebersamaan. Tidak hanya pada perayaan yang berbau kebudayaan, misalnya pada upacara adat, penyambutan tamu dari luar pulau dan lain sebagainya, lebih dari itu, alkohol seperti sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dimana ada perkumpulan (pesta rakyat, acara duka hingga tongkrongan biasa orang-orang muda) hampir bisa dipastikan tersedia alkohol disana.  Alkohol cukup populer, terutama di kalangan kaum muda. Istilah yang belakangan dipakai untuk menyebut alkohol adalah “Air rasa pusing”. Sangat disayangkan, kepopuleran alkohol se...

Investasi diri dari waktu senggang

“Loe sih enak, dari lahir bakatnya udah ada. Lah gua? Kalo ditanya bakatnya apa ya cuma makan” Candaan kecil seperti ini sering dilontarkan mereka yang merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa yang bisa dibanggakan. Alih-alih sekedar candaan, candaan seperti malah dijadikan tameng untuk nyaman pada keadaan tidak ada upaya pengembangan diri, padahal sejatinya tidak ada ketrampilan yang lahir tanpa melewati rentetan latihan dan kegagalan. Pada kenyataannya, dua orang bisa lahir pada waktu yang bersamaan. 25 tahun kemudian, salah satunya menjalani kehidupan yang sangat bermanfaat bagi dirinya dan orang sekitarnya sedangkan yang  satunya masih tertatih dalam upaya untuk mandiri. Ini bukan soal keberuntungan karena  keberuntungan sesungguhnya adalah kata lain dari kerja keras.  Ini tentang kesadaran sejak dini dalam memanfaatkan waktu untuk berinvestasi pada diri sendiri. Dengan investasi diri yang mumpuni, orang akan lebih siap menjemput kesempatan dan menciptakan peluang....

Jangan jadi bagian "Generasi Menunduk".

“Karena sungguh, di era generasi millenial ini, mencari teman ngobrol yang lebih seru dari gadget itu lumayan susah" Seringkali kita kehabisan bahan ngobrol dan pelariannya adalah gadget di tangan. Banyak sekali istilah yang dijadikan kiasan kondisi generasi millenial, salah satu yang cukup populer adalah “generasi menunduk”. Ketika itu terjadi dalam sebuah lingkaran muda-mudi yang seharusnya ada interaksi seru satu sama lain, tapi malah sibuk dengan gadgetnya masing-masing, yang terjadi adalah  “Ngacangin dan dikacangin”, inilah asal muasal istilah “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. Mirisnya, pemandangan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa saking seringnya kita temukan. Bahkan mungkin pernah kita alami sendiri.  Barangkali salah satu hal yang melatarbelakangi tingkah laku seperti ini adalah ketiadaan kemampuan menempatkan prioritas dalam mencari informasi. Ketika kita terlena dengan gadget, sadar atau tidak, kita sedang terlena dengan sebuah duni...

Minum susu, malah sakit. Loh, koq bisa?

Mungkin ada diantara kita yang bertanya-tanya ketika mendengar pernyataan diatas. Bahkan mungkin mulai muncul pertanyaan dikepala kita : "gak pernah minum susu kali? " "waktu kecil dikasih minum apa tuh?" Dan sederet pertanyaan lain yang mungkin bisa lebih kejam ketika mendengar ada yang mengalami kejadian demikian. Tapi mungkin juga ada di antara kita yang malah mengalami sendiri "minum susu, malah sakit". Atau mungkin saja ini terjadi pada orang terdekat kita. Nah, guys,.  ternyata kejadian diatas bukan hal baru di dunia kesehatan.  Berikut penjelasannya : Ternyata dalam ilmu kesehatan, ada penyakit yang dikenal sebagai intoleransi laktosa atau ketidaktahanan terhadap laktosa, yaitu suatu keadaan dimana tubuh tidak dapat memecah dan menyerap laktosa. Padahal nih guys,  laktosa sendiri dikenal sebagai pemasok hampir setengah dari keseluruhan energi di dalam susu (35-45%). Nah trus gimana ceritanya tuh sumber energi koq malah bikin sakit.? Jadi gin...