Langsung ke konten utama

Postingan

God bless you, Nuk!

Waktu itu sudah cukup sore. Dan dagangan kami belum semuanya laku terjual. Masuk keluar dari rumah ke rumah, kosan ke kosan, menjajakan kue yang kami beli dari pasar untuk dijual lagi dengan sedikit menaikkan harga. Tampang sudah mulai lusuh dan kaki mulai menolak diajak bekerja sama. Pinggul menunggu giliran untuk pegal sebentar malam. Untung saja kami berdua, kala itu. Setidaknya bisa saling menyemangati. Sekitar pukul 7 malam, project kami pun selesai. Lelah kami terbayar dengan beberapa rupiah di tangan. Meski tak seberapa, hati kami tetap bahagia. Tiba2 saya teringat kenangan 3 tahun lalu. Kenangan yang sampai kapanpun tak akan pernah hilang dari ingatan. Saat melihat sosok wanita cantik dilayar ponsel. Teman karib, saudari berbeda rahim. Perempuan yang bersamanya saya bisa melakukan apa saja, termasuk berjualan kue keliling. Hari ini dia tunangan. Dengan seorang pria baik hati. Meskipun tidak sempat bersua, kuharap dia tetap bahagia. Dari kisah cinta mereka, Satu hal yang...

KOPI : Friend or Foe?

KOPI  Friend or Foe? Minuman satu ini memang sangat populer. Saking populer sampai ada filosofinya. Sayang, kopi sering di”cap” negatif atas kandungan kafein didalamnya. Sebenarnya, seberapa bahayakah kafein itu? Untuk menjawabnya, Journal Review in Advance, 2016 memaparkan hasil diskusi International Life Sciences Institute (ILSI) Cabang Amerika Utara yang bertema : "Kafein: Teman atau Musuh ? . Berikut beberapa fakta tentang kafein : Ø   Metabolisme kafein tiap orang berbeda dikarenakan perbedaan genetik yang mempengaruhi praktik konsumsi seperti rasa dan titrasi diri, dan risiko penyakit. Ø   Orang dengan metabolisme lambat memiliki peningkatan risiko terkait penyakit jantung dan pembuluh darah (CVD), sedangkan orang dengan metabolisme cepat kafein dapat terlindung dari risiko CVD oleh antioksidan dalam kopi. Ø   Konsumsi kafein jika disertai dengan kebiasaan merokok beresiko lebih tinggi terhadap CVD. Ø   Konsumsi kafein pada 180-200 ...

SEIMBANG

SEIMBANG Sebesar pengorbananku Kuharap kau juga begitu Sekuat perasaanku Kuharap kau juga begitu Seadil perlakuanku  Kuharap kau juga begitu Kadang memang sesulit itu menahan ego. Merasa paling berjuang Padahal sendirinya tidak pernah berkorban Paling cinta Padahal hanya sebatas kata Paling tertindas Padahal sendirinya tidak pernah adil berlaku Bukankah sekedar   mencinta saja tidak cukup, Jika tidak ada seimbang, pantaskah ia disebut “cinta”?

IKHLAS

“IKHLAS” “Bantu aku untuk ikhlash..bantu aku untuk ikhlash....” Beberapa mantra mulai terucap dari balik kedua bibir mungil itu. Matanya terpejam. Tubuhnya masih meringkuk di kasur. Namun jiwanya tidak sedang tidur. Rasa sakit belakangan sering datang tanpa diduga. Tidak menyerang fisik, tetapi jiwanya. Lebih sering di subuh seperti ini, atau menjebaknya saat hening malam tiba dan ia belum dapat terlelap. Satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah dengan mengulang mantra itu beberapa kali. Khusyuk dan lemah namun itulah seluruh pasrahnya. Lalu entah bagaimana mantra itu menembus atap rumah, terus naik ke cakrawala, lalu sampai ditelinga Sang Maha Kuasa. Satu-satunya tempat manusia menaruh harap saat buntu akal, tak tahu harus mengadu kemana. Sedangkal pengetahuannya, demikianlah doa mencapai Yang Kuasa. Ia tak paham soal dosa, ia tak tahu soal tata cara, namun jauh di kedalaman hatinya, Ia tahu Tuhan sedang mendengar doanya, memeluknya, menjamah luka hatinya. ia bisa merasakan h...

Mawar

Sebulan berlalu Mawar dibotol kacamu mulai layu beberapa daun gugur, beberapa mungkin menyusul sebulan yang lalu mawar itu masih disana sedang cantik-cantiknya dan hanya satu-satunya hatimu terpaut, jemarimu bergerak sekuntum mawar kau bawa pulang sebulan berlalu kau kembali kesana, tak ada yang menarik tak ada bunga, hanya daun dan kuncup lalu kau berlalu, mencari mawar di taman yang lain dibelakangmu ada taman yang pilu, “jika saja berbunga yang cantik semudah memetiknya..”

Pulang

Untuk tebal kabut dari subuh ke pagi Yang bertahan lebih lama saat kemarau lewat untuk embun yang menempel di kaca jendela dan teh panas yang segera menghangat dalam detik aku pasti pulang menemuimu yang dingin dikening namun hangat dikenang E. R

Anggur

Aku Nur orang timur Masih bau kencur Kadang suka tekebur Aku Nur Sedang babak belur Entah kurang mujur Atau kurang tasyakur Beri aku anggur Bukan bajigur Cukup sesembur Hingga melebur Hingga ku jidur Tapi Jangan sampai terbujur Terjulur dikasur Karena aku bukan pelacur Atau wanita penghibur Hanya seorang Nur Yang sedang hancur Beriku anggur Senyur Biarkanku bertutur Bukan mendengkur Ngawur Beri aku anggur Biar ku berani jujur Karena saat berbaur Alkohol dan hati selalu akur Jadi pelipur Lalu menggusur Jujur Yang terkubur